Sahabat Sejati

Monday, 6 February 2012

KAU Hadir Dalam Munajatku


Sedarilah... tanah yang dipijak ini
adalah milik ALLAH S.W.T
dan udara yang dihirup ini juga milik-NYA.
Andai pernah terlanjur membuat-NYA murka,
masih ada masa untuk membuka lembaran baru.
Andai terasa diri sudah sempurna,
teruskanlah amalan hingga ke hujung nyawa.
Semoga kalimah terakhir kita adalah laailaahaillallah...

NIKMAT dunia sememangnya tidak akan habis dikejar. Biarlah dunia berlari. Sudah sampai masa kita berjalan dengan tenang untuk mengutip amalan yang tertinggal. Dan sudah sampai masa kita membuang debu-debu kotor yang melekat di badan agar tidak menjadi beban di Padang Mahsyar kelak.

Ketika menyiapkan bekalan, sudah semestinya kita memerlukan kehadiran TUHAN. Rasailah kasih sayang-NYA setiap kali kita melangkah. Tadahlah tangan, serahkanlah sepenuh hati kepada-NYA. Yakinlah... DIA pasti memperkenankan permintaan, melapangkan kesusahan dan menyembuhkan kedukaan.

KAU Hadir Dalam Munajatku mengajak kita mendambakan kehadiran ILAHI dalam segenap penjuru kehidupan. Pulanglah ke jalan TUHAN. Kembalilah kepada rahmat-NYA yang tiada tara itu. Buangkanlah semua keluhan dan runtuhkanlah apa jua jurang. Sujudlah pada-NYA, moga DIA memperkenankan jalan redha… moga kehadiran-NYA dapat dirasai dalam setiap munajat kita.

Tajuk : KAU Hadir Dalam Munajatku
Penulis : Ruhana Zaki
Penerbit : KARYA BESTARI Sdn Bhd
M/S : 455
Harga : SM 19.90 / SS 22.90

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan!

Sesekali ia menjengah, terima kasih Tuhan...


Ujian yang datang tidak diduga. Seumpama kita melihat hari yang cerah, tanpa disangka mendung menyelubungi membawa hujan. Begitu juga hari yang gelap bergumpal awan hitam, tiba-tiba hujan tidak turun. Siapalah kita untuk meneka taqdir yang tersurat. Kita hanya menerima, redha atau sebaliknya.

Hari ini benar-benar satu ujian. Seharian, ada sahaja peristiwa yang tidak enak untuk dikenang. Bertalu-talu, belum mampu menghadapi ujian pertama datang pula ujian kedua. Letih, penat dan lemas. Kekabutan dan kecelaruan yang memenuhi rongga hati, hampir-hampir hilang kesabaran. Ahh... iman di dada tipisnya lebih dari kulit bawang.

Saya mencari teman-teman rapat untuk meluah perasaan. Namun, semuanya tidak dapat membantu. Saya mencari dan terus mencari. Apa yang ada, kosong dan hampa, lemah dan longlai.

Saya terasa seperti kehilangan sesuatu, tiba-tiba timbul pula perasaan rindu yang mendalam dan mencengkam. Hati benar-benar terusik. Saya cuba bertanya kepada diri, apakah aku ini kehilangan sesuatu? Tidak! Siapa yang dirindui sebenarnya? Entahlah! Saya jadi tidak menentu, sulitnya jawapan yang dicari.

Teman-teman sudah tidak dapat membantu...

Saya pasrah, saya akur...

Tiba-tiba lembut terngiang suara hati menjengah: “Mungkin kamu sudah lama tidak merintih dan menangis kerinduan kepada-Nya. Mungkin juga DIA rindu untuk mendengar rintihan hati kamu, maka diberikan ujian kepada kamu. Dengan ujian kamu akan segera ingat kepada-Nya, kamu akan merasa lemah dan kerdilnya diri. Sebab itu anggaplah ujian itu sebagai ‘jemputan’ DIA kepada kamu untuk bertemu dengan-Nya. Itulah rahmat disebalik ujian.”

Benarlah sudah lama saya tidak merintih dan menitiskan air mata kerinduan. Mungkin kerana dek kesibukan dengan urusan dunia, atau mungkin merasakan diri telah cukup sempurna??? Astaghfirullah...

Akhirnya saya merasakan bahawa DIA mahu saya mengadu dan bergantung harap hanya kepada-Nya. Saya segera insaf, lalu saya berwudhuk dan bersolat dua rakaat. Saya bermunajat memohon keampunan-Nya, menyelami perasaan hati. Merintih dan merayu kepada-Nya, biarlah malam yang indah ini menjadi milik saya dan DIA.

Sejenak saya merenung firman-Nya:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (sahaja) mengatakan "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" (al-Ankabut: 2)

Seketika saya merasa tertampar oleh diri sendiri. Seringkali saya mengatakan saya beriman, dan jika dikatakan “kamu tidak beriman” pasti saya akan merasa marah. Hakikatnya ujian itu adalah tapisan kepada iman saya.

Benar, sesekali ujian itu menjengah untuk mengetahui apakah benar kita telah beriman dengan sesungguhnya ataupun sekadar mainan kata di bibir semata.

Saya segera insaf. Ujian adalah kasih sayang-Nya.

Terima kasih Tuhan...

Friday, 3 February 2012

Father & Son - Yusuf Islam



Father
It's not time to make a change
Just relax, take it easy
You're still young, that's your fault
There's so much you have to know
Find a girl, settle down
If you want you can marry
Look at me, I am old, but I'm happy

I was once like you are now
and I know that it's not easy
To be calm when you've found something going on
But take your time, think a lot
Think of everything you've got
For you will still be here tomorrow, but your dreams may not

Son
How can I try to explain, when I do he turns away again
It's always been the same, same old story
From the moment I could talk I was ordered to listen
Now there's a way and I know that I have to go away
I know I have to go

Father
I was once like you are now
and I know that it's not easy
To be calm when you've found something going on
But take your time, think a lot
Think of everything you've got
For you will still be here tomorrow, but your dreams may not

Son
All the times that I cried
keeping all the things I knew inside
It's hard, but it's harder to ignore it
If they were right, I'd agree
but it's them THEY know not me
Now there's a way and I know that I have to go away
I know I have to go