Sahabat Sejati

Wednesday, 22 April 2026

Kenangan Masih Basah: Desaku Yang Dulu


Masih jelas di mata hatiku, desaku yang dahulu. Tempat aku mula mengenal dunia tanpa keliru, tempat aku mula belajar erti bahagia yang paling tulus. 

Di situ, rumah-rumah kayu bertiang tinggi berdiri anggun di pinggir semak menerung. Dindingnya mungkin sudah senget ditelan usia, tapi di dalamnya penuh cinta dan tawa. Atapnya dari zink atau nipah tua, berdenting lunak kala hujan mencurah dari langit desa. 

Jalan di hadapan rumah belum bertar, belum dicat warna moden. Hanya tanah merah dan batu-batu kecil, yang licin kala hujan, berdebu kala kemarau, namun itulah laluan kita bermain tanpa resah, berkaki ayam, berbasikal cabuk, mengejar senja dan layang-layang yang tersangkut di pucuk ara. 

Sesekali kenderaan menderu, itu pun menjadi hal yang luar biasa. Anak-anak akan berhenti bermain, menjeling dengan penuh takjub, seolah-olah mendengar bunyi kereta adalah cerita dari kota kayangan. 

Desaku yang dahulu, warnanya tidak berubah, masih kehijauan bendang, masih kebiruan langit petang, masih keemasan cahaya mentari yang melimpah di atas daun kelapa. 

Di sana, manusia hidup sebagai satu keluarga. Ikatan hati kuat ibarat akar pepohon tua. Anak aku.. anak kamu, boleh ditegur, boleh dipimpin, boleh ditepuk tangan tanpa benci. Tiada dinding hati yang tinggi. Yang ada hanya kasih yang bersambung dari pintu ke pintu. 

Desaku yang dahulu, damai seperti pagi Aidilfitri, tenang seperti alunan tasbih di surau tua, harmoni seperti orkestra alam. Cengkerik bersahut, burung tukang memanggil, dan kokokan ayam jantan menjemput fajar. 

Kini semuanya tinggal kenangan. Desa itu perlahan-lahan berganti wajah, rumah kayu hilang diganti konkrit bisu, jalan diturap aspal tapi kehilangan suara kanak-kanak, semak menerung ditebas, dan ikatan hati.. kian longgar, kian sepi. 

Tapi dalam hati ini.. desa itu masih hidup, masih segar. Ia wujud di ruang rindu, tempat aku selalu pulang walau hanya dalam mimpi. Desaku yang dahulu tidak pernah mati. Ia hidup dalam setiap denyut nadi ingatanku.

0 comments: